Meminta orang lain berhenti merokok (terkadang) sia-sia
Saya sering mendapati banyak orang ingin berhenti merokok atau ingin menghentikan kebiasaan merokok seseorang di dekatnya (kadang suami, kadang anak). Ada yang benar-benar berhasil dan ada yang kembali lagi (relaps) merokok setelah berhenti beberapa waktu.
Berhenti merokok itu sangat mudah, tetapi harus tahu benar akar atau penyebab seseorang merokok. Apakah merokok karena gaya hidup, karena pengaruh lingkungan, atau karena hal lain yang akhirnya menjadikan suatu kebiasaan.
Beberapa waktu lalu saya dihubungi oleh seorang teman perempuan, dia bilang, “mbak, suami saya ngrokok lagi neh, padahal udah 3 bulan berhenti”. Suami teman saya ini akhirnya bertemu dengan saya dan berceritalah dia bahwa penyebab dia kembali merokok adalah karena tekanan pekerjaan, sikut-sikutan naik jabatan sampai pada permainan uang.
“saya g tahu mbak harus gimana, g bisa mikir, kepikiran anak saya, tiba-tiba ya saya ngrokok aja, lebih tenang”
Dia belum cerita ke istrinya tentang permasalahan di kantor dan mereka punya anak berkebutuhan khusus yang saat ini beranjak remaja dengan segala up and down pengasuhannya.
Jadi yang bisa saya utarakan disini adalah suami ini menjadikan rokok sebagai ‘teman’, menjadikan rokok sebagai ‘pelarian’, yang dia merasa bahwa saat dia merokok maka dia jauh lebih tenang. Entah nanti dia bisa dengan mudah menyelesaikan masalah atau tetap menemui jalan buntu itu urusan nanti, yang penting tenang dulu. Sama halnya dengan salah seorang teman dekat yang saat stress dia merokok, alasannya, “mending aku ngrokok daripada minum, akibat minum bisa macem-macem, ngrokok yang rugi aku aja, kan aku ngrokok g didepan orang lain”.
So, jika dari anda semua yang sedang gencar-gencarnya menyuruh orang lain berhenti merokok, kenali dululah penyebab seseorang merokok. Siapa tahu memang ada masalah lain yang harus diurai terlebih dahulu, harus diselesaikan terlebih dahulu, dengan mengetahui penyebabnya maka akan lebih mudah menghentikan kebiasaan merokoknya. Karena otak manusia merespon nikotin dengan baik, apalagi nikotin membantu menaikkan mood, konsentrasi, mengurangi marah dan stres. Harus ada sesuatu hal yang besar yang bisa menggantikan rokok atau sesuatu hal besar yang bisa membuat seseorang akhirnya tidak lagi merokok. Cara ini disebut membuat jangkar atau membuat pengikat.
Contoh: menggunakan orang-orang terkasih sebagai jangkar. Stress memikirkan anak yang sakit, akhirnya merokok, tetapi jika dia tetap merokok maka bisa jadi ikut sakit juga, lalu siapa yang akan merawat si anak?
Untuk anda yang masih merokok dan ingin berhenti merokok, coba jawab empat pertanyaan berikut ini. Jika sudah mendapatkan jawabannya:
Apakah merokok adalah hal pertama yang terlintas di pikiran saat sedang bermasalah, stres, marah, atau sedih?
Apakah merokok membuatmu merasa lebih relaks saat sedang bermasalah?
Apakah kamu akan banyak merokok saat bermasalah?
Saat sudah berhenti merokok, apakah kangen rasanya merokok saat tetiba kamu dihadapkan pada masalah?

Komentar
Posting Komentar