Sebelum
memutuskan masuk Fakultas Kedokteran, ada baiknya calon mahasiswa tahu keadaan
yang sebenarnya di perkuliahan. Agar antisipasi di awal sudah dilakukan. Jadwal
kuliah dan praktek yang padat, banyak hafalan, diktat tebal, kurang waktu
bersosial, gagal ujian, dan masih banyak lagi tantangan mahasiswa yang bisa
memunculkan stress.
![]() |
| photo from The Alternative Daily (google image) |
Ilmu
kedokteran sering dianggap sulit dan mahal. Hal itulah yang menyebabkan
anggapan bahwa ilmu tersebut hanya diperuntukkan untuk mahasiswa yang memiliki
kemampuan akademis tinggi (dan punya dana besar-red). Sistem belajar di
Fakultas Kedokteran beda dengan di Fakultas lain karena menggunakan sistem blok.
Sistem ini menuntut mahasiswa untuk belajar mandiri, dengan proses belajar
tutorial (diskusi) yang pastinya mahasiswa dituntut ngomong, bertanya,
berpendapat. Jika mahasiswa terlihat pasif, bicara hal yang tidak bermutu, tidak bisa menjawab pertanyaan, wahhh....siap-siap saja harus mengulang blok. Tiap blok berlangsung selama tujuh minggu, dengan lima minggu kuliah,
satu minggu ujian, dan minggu berikutnya remidi. Jadi...kalau harus mengulang, ya ngulangnya harus tujuh minggu (lagi). Bisa ketinggalan dengan teman-teman seangkatan.
Jika mahasiswa
tidak siap dengan sistem ini, maka tak ayal stress akan datang. Belum lagi jika
ditambah ada masalah internal. Stressor akademis dapat bermula dari tekanan
bahwa mahasiswa harus berhasil, belum adanya kepastian masa depan setelah
lulus, dan kesulitan mahasiswa berintegrasi dengan sistem pembelajaran yang ada
di kampus (Shaikh, Kahloon, et al 2004). Disamping itu, mahasiswa yang
mempelajari ilmu sains lainnya merasa bahwa
diri mereka lebih stres daripada mahasiswa non sains (Raj, Simpson, Hopman
& Singer, 2000). Pemikiran mahasiswa tersebut dapat mengarahkan mereka
kepada permasalahan kesehatan fisik dan psikis.
Dari berbagai
sumber penelitian, stres pada mahasiswa dapat dilihat dari berubahnya kebiasaan
tidur, terlalu banyak mencari waktu berlibur bahkan membolos, perubahan pola
makan, meningkatnya pekerjaan atau tugas yang harus diselesaikan, dan munculnya
tanggung jawab baru (Ross, Shannon, Niebling, Bradley C, Heckert, Theresa M,
1999). Karena akibat stress tidak dapat dipastikan secara langsung dari
permasalahan fisik, banyak mahasiswa yang mengalami psikosomatis (Mouri, 2000)
dimana muncul permasalahan fisik tetapi bukan karena masalah kesehatan. Dapat
dicontohkan seperti mata selalu berkunang-kunang, diare, migren, atau
gatal-gatal. Mahasiswa harus faham betul dengan kondisi fisik dan psikisnya. Karena
saat tahu ada masalah fisik, yang diobati jangan cuma sakit fisiknya tapi
sembuhkan juga psikisnya…..
So....Sudah siap menghadapi stress?
Referensi
1. Mouri,
S. C. (2000). Addressing the mental health concerns of International students. Journal of Counseling and Development, 78, 137–144
2. Raj,
RS.,Simpson, CS.,Hopman, W.M & Singer, MA (2000). Health related quality of
life among final year medical students. Canadian
Medical Association Journal, 162, 509-510
3. Ross,
Shannon, Niebling, Bradley C, Heckert, Theresa M (1999). Sources of stress
among college students. College Student
Journal Vol 33 Issue 2
4. Shaikh,
Kahloon, et al Students, stress and coping strategies: a case of Pakistani
Medical School. Education for Health
Vol.17 No. 3 November 2004

Komentar
Posting Komentar