Setelah membaca novel Dan Brown berjudul Origin, aku tersadar bahwa novel ini sebenarnya adalah pengingat bagi kita sebagai umat yang (katanya) ber-Tuhan. Saat ini banyak keyakinan mulai dipertanyakan (karena ulah umatnya sendiri), banyak orang meninggalkan tempat ibadah karena merasa beribadah bisa dimana saja, banyak orang sibuk mengurus kehidupan dunianya karena merasa hanya dunialah satu-satunya tempat dimana mereka harus bertahan hidup. Maka terciptalah tuhan-tuhan baru.
![]() |
| sumber: Google image |
Khas Dan Brown, yang mencampurkan berbagai macam ide-ide perkembangan, ilmu pengetahuan, teknologi- dengan agama (terutama Kristen-Dan Brown selalu mengambil ayat di dalam Injil, sejarah nubuat, dan sejarah ke-Kristusan), membuat orang yang sudah berkeyakinan (harus-bahkan dipaksa) mempelajari kembali ajarannya. Tetapi memang (kuyakin) bagi pembaca yang keyakinan agamanya kuat, semua hal yang sudah dipertanyakan Brown dalam bukunya dianggap nihil, karena kesemuanya berpulang pada zat yang Maha Tinggi.
Kembali lagi pada judul –manusia menciptakan tuhannya sendiri-, saat ini teknologi menjadi raja di jagat raya, bahkan perkembangannya sudah tidak lagi dalam hitungan bulan tetapi dalam hitungan hari. Jika baru saja minggu lalu kamu beli gawai dengan kamera yang bisa berfungsi layaknya kamera DSLR, minggu depan kamu bakalan menemukan gawai yang bisa melakukan semua tugas layaknya asisten pribadi.
Hanya satu yang (sebenarnya) kutakutkan, bahwa nantinya justru manusia yang akan disetir oleh teknologi.
Coba kalau semisal apa yang di imajinasikan Brown benar-benar berkembang, teknologi artificial intellegence (AI) atau dalam Bahasa Indonesia diartikan dengan kecerdasan buatan, dipakai oleh semua orang, pastinya mereka bisa jauh lebih pintar dari manusia. Karena mereka diciptakan dan diperintahkan untuk meniru manusia, mempelajari apa yang manusia pelajari, dan punya inisiatif. Wowww...punya inisiatif?. Jadi semisal si teknologi AI ini diletakkan di dalam rumah yang berfungsi sebagai sistem keamanan, tetiba ada orang lewat di depan rumah yang mencurigakan maka AI ini seketika menghubungi pihak kepolisian. Ok lah itu contoh yang bagus. Tapi jika misalnya si empunya rumah sedang dalam kondisi sedih tertekan dan merasa bahwa dia ingin mati saja, bisa-bisa si AI ini berinisiatif memanggil pembunuh bayaran.
AI sudah berkembang beberapa tahun belakangan. Ada yang dinamakan SOPHIA, dia belajar dan mempelajari manusia. SOPHIA bisa ikut memahami perasaan manusia dan mampu menjawab banyak hal, bahkan menjadi teman mengobrol. Tapi ada hal yang pastinya luput, dia tidak punya hati.So, jika kamu punya hati, coba deh dalam sehari kurangi penggunaan teknologi atau ketergantunganmu pada teknologi. Contohnya gawai. Coba tidak mengoperwasikan gawai selama 2 jam (tidak dihitung saat tidur), atau tidak ribet bertanya saat sedang di coffee shop, “mas...password wifinya apa?” atau hanya gunakan satu aplikasi chating/media sosial.
Aku pernah beberapa kali mencoba dengan cara yang berbeda-beda. Pernah puasa tidak membuka media sosial selama 3 bulan, hasilnya sangat menyenangkan hati dan pikiran. Lalu pernah juga mematikan gawai di jam aktif selama 3 jam (jam 9-12 siang), dan saat pergi hangout bersama teman kami menumpuk gawai kami di atas meja. Hasilnya sangat memuaskan, menyenangkan, pikiran rasanya adem, hati tenang.
Mari kita coba dengan cara masing-masing. Agar tak tercipta tuhan-tuhan baru.
*silahkan baca novelnya Dan Brown berjudul Origin. Banyak istilah dalam biologi di bab-bab akhir, background novel di Barcelona sangat mengasyikkan jika sembari menjelajahi Google untuk mengetahui nama-nama tempat yang dicantumkan dalam novel, biar lebih dapat feelnya. Selamat membaca.


Komentar
Posting Komentar