![]() |
| picture from: emerging EdTech |
While I kiss your neck and
shoulders
(Versace
On The Floor- Bruno Mars)
Lagu berjudul
Versace On The Floor sangat populer karena terkesan romantis dan tidak sedikit
anak-anak serta remaja kita yang hafal liriknya. Lagu Versace on The Floor
adalah salah satu lagu yang dibatasi penyiarannya oleh KPI (Komisi Penyiaran
Indonesia) Jawa Barat. Pada 18 Februari 2019, KPI Jawa Barat mengeluarkan
sebuah peraturan tentang pembatasan siaran lagu-lagu berbahasa Inggris.
Sejumlah 17 lagu masuk dalam kategori Dewasa (D) yang hanya boleh ditayangkan
dalam bentuk lagu dan video klip pada jam 22.00-03.00 di wilayah siar Jawa
Barat. Walaupun beberapa pihak menyatakan bahwa peraturan ini kurang relevan
karena hanya mengarah kepada 17 lagu yang masuk dalam daftar sedangkan masih
banyak lagu-lagu kategori D lainnya, tetapi langkah ini adalah langkah yang
tepat mengingat belum adanya peraturan khusus tentang penyiaran yang membatasi
lagu-lagu kategori D di Indonesia.
Tujuan dibalik dibuatnya peraturan tersebut adalah sebuah perlindungan
untuk anak-anak kita. Bayangkan jika anak-anak terbiasa mendengar lagu dari
radio di mobil ketika berangkat dan pulang sekolah, padahal lagu-lagu tersebut
sebenarnya tidak layak didengar oleh mereka. Terkadang alasan untuk
mendengarkan musik karena irama dan nada yang easy listening, mereka
tidak faham artinya karena lirik menggunakan bahasa Inggris. Contoh saja lagu
Despacito yang fenomenal, dibalik lagu dengan irama yang membuat kita berjoget
terdapat lirik yang mengandung unsur intimasi antara laki-laki dan perempuan.
Lalu apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus melarang
anak-anak mendengarkan musik, apakah orang tua dan guru harus faham bahasa
Inggris?
Saat ini akses hiburan sangat mudah didapat dari ponsel kita
masing-masing. Layanan musik streaming, mendengarkan radio, dan menonton video
musik di YouTube kesemuanya bisa dilakukan dalam satu genggaman. Gempuran
kemudahan tersebut tentunya membuat kita harus lebih bijak dan berhati-hati. Pada
era 90-an saat rekaman musik masih berbentuk kaset dan CD, setiap perusahaan harus
mencantumkan logo “Parental Advisory” atau bimbingan orang tua, MTV yang
berjaya di era 1990-2000an memberlakukan pembatasan penayangan video klip di
televisi, sedangkan saat ini kontrol utama ada pada penikmat musik.
![]() |
| picture from: Gaby D'alessandro |
Banyak penelitian membuktikan pengaruh musik pada perkembangan
anak. Chou dan Rifergiote, peneliti psikologi dari California State University
menuliskan dalam tesis mereka “The Influence of Music on the Development of
Children” bahwa musik dapat mempengaruhi sistem pendengaran, menstimulasi otak,
bahasa, dan ingatan. Otak manusia akan mudah merespon musik yang sedih dan
musik yang senang dengan mudah. Hal ini dinyatakan oleh Siegel (2001) bahwa
neuron yang berada di dalam sistem saraf akan menjadi sirkuit jika ada
rangsangan musik. Bayangkan jika musik yang didengar oleh anak-anak adalah
musik yang tidak tepat untuk mereka, apa yang akan terjadi?
Musik populer saat ini sangat eksplisit memperlihatkan tentang
seks, narkoba, bunuh diri, alkohol, dan kekerasan. Jika tidak ada kontrol maka
hanya dengan mendengarkan musik dapat memberikan pengaruh buruk yang signifikan
terhadap anak-anak, apalagi jika diperdengarkan berulang. Ada yang menyatakan
bahwa mendengarkan musik karena iramanya yang easy listening tetapi data
dari tahun 2009 di Amerika menunjukkan bahwa 25% remaja menyukai lagu-lagu
favorit karena liriknya adalah cerminan dari perasaan mereka.
Penelitian oleh Borzekowski, Robinson, dan Killen pada tahun 2010
menunjukkan bahwa anak-anak yang sering menonton video musik dengan konten
eksplisit memperlihatkan peningkatan risiko berkembangnya kepercayaan pada
stereotip yang salah, bahkan remaja perempuan mempersepsikan bahwa perempuan
yang menarik adalah yang memiliki berat badan tertentu. Coba kita lihat bagaimana bentuk ataupun
penggambaran tentang perempuan yang menarik di sebuah video klip musik? Bisa
kita tarik kesimpulan bahwa rata-rata perempuan menarik digambarkan bertubuh
tinggi langsing, berambut panjang, dan berwajah putih. Padahal penggambaran
semacam ini akan mengaburkan sisi menarik perempuan yang lainnya, misalnya
menarik karena kecerdasannya ataupun menarik karena baik perilakunya. Sedangkan
remaja yang kerap mendengarkan musik bertema kekerasan atau video seks
cenderung memiliki kemungkinan akan terlibat dalam kekerasan dibandingkan
dengan remaja yang tidak terpapar musik kekerasan.
Apa solusi yang bisa kita lakukan? Perlu digaris bawahi bahwa kita
sebagai orang tua dan pendidik tidak bisa bekerja sendiri, harus ada kerjasama
yang baik dari setiap unsur, apalagi tidak semua bahasa dikuasai oleh orang tua
dan pendidik. Gunakan mesin pencari di google untuk mencari lirik dari
lagu-lagu yang sedang hits dan mencari artinya dengan bantuan mesin penerjemah.
Orang tua dan pendidik juga harus memberikan contoh dengan memilih lagu-lagu
yang tepat untuk didengarkan, karena bisa jadi anak-anak akan ikut
mendengarkan. Mengganti lirik dari lagu-lagu yang easy listening atau
lagu-lagu yang sedang hits dengan lirik yang berisi tentang hal positif atau
berisi materi pembelajaran. Hal ini adalah salah satu strategi yang bisa
digunakan agar anak-anak lebih bersemangat untuk belajar.
Disamping itu harus ada desakan untuk melakukan kontrol terhadap
penyiaran musik. Hal ini pastinya harus dilakukan oleh pemegang kebijakan.
Karena bisa jadi kita sudah melindungi anak-anak di sekolah dan di rumah tetapi
saat anak-anak berada di area publik mereka terpapar musik dengan lirik
eksplisit. Contohnya mengatur penyiaran musik di pusat perbelanjaan, di
bandara, ataupun di area publik lainnya, terutama berkenaan dengan pemilihan
jenis musik yang dapat didengarkan atau dinikmati oleh semua usia.
Musik adalah bagian dari seni, ekspresi, dan emosi. Semua orang
bebas menciptakan dan menikmati karya musik, tetapi kontrol kepada siapa musik
tersebut bisa diperdengarkan adalah sebuah keharusan.
Tulisan pernah dimuat di Majalah Sahabat Guru
Referensi:
1.
Borzekowski DL, Robinson TN, Killen JD. Does the camera add 10
pounds? Media use, perceived importance of appearance, and weight concerns
among teenage girls. J Adolesc Health.2010;26 (1):36– 41
3.
Christopher Chau & Theresa Riforgiate (2009), The Influence of
Music on the Development of Children. Psychology and Child Development
Department. California Polytechnic State University
4.
Daniel J. Siegel. Toward and interpersonal neurobiology of the
developing mind: Attachment relationship, “mindsight” and neural integration. Infant
Mental Health Journal, Vol. 22(1–2), 67–94 (2001). http://controlmastery.org/docs/Siegel.pdf


Komentar
Posting Komentar