SISWA NGANTUK KARENA SEKOLAH TERLALU PAGI

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sejak tahun 2017 sudah menetapkan waktu sekolah dari hari Senin-Jumat dan jam belajar 8 jam/ hari, tetapi penerapannya dikembalikan kepada pihak sekolah. Sayangnya, masih ada hal yang luput diperhatikan oleh Kemendikbud, yaitu jam masuk sekolah. Ternyata Indonesia adalah negara dengan jam masuk sekolah paling pagi di seluruh dunia. Rata-rata sekolah di Indonesia dimulai dari pukul 06.30-07.00, dan hanya ada beberapa sekolah yang jam masuk dimulai pada pukul 07.30- 08.00. Korea Selatan menetapkan jam masuk sekolah pukul 08.00, Jepang menetapkan pukul 08.50, sedangan Inggris pukul 8.30.

Sebenarnya apa pentingnya menetapkan jam masuk sekolah? Hal yang masih luput dari perhatian adalah bahwa anak-anak usia sekolah memiliki proses tumbuh dan berkembang yang tidak hanya melibatkan faktor kognitif dan emosional, tetapi juga faktor biologi. Pada anak usia sekolah terutama usia remaja mereka membutuhkan waktu tidur rata-rata 9 jam di malam hari. Hitung saja jika remaja masuk sekolah pukul 07.00, maka paling tidak mereka harus bangun pukul 05.00, berarti mereka harus sudah tidur pukul 9 malam. Tetapi sayangnya, keadaan biologis mereka tidak mendukung hal tersebut.

Anak remaja (usia SMP-SMA) cenderung sulit tidur di awal waktu karena secara alami otak mereka bekerja lebih lambat dan tidak siap untuk tidur awal. Keadaan ini biasanya terjadi mulai usia 9 tahun, perubahan pola ini terjadi karena ada perubahan ritme sirkadian, dimana hormon otak melatonin diproduksi pada larut malam. Inilah mengapa pada anak remaja mereka lebih sulit tidur dan mengalami gangguan kurang tidur (sleep deprivation). Tidur menjadi lebih larut dan bangun tidur dirasa lebih berat, sindrom ini dinamakan sindrom burung hantu. Sindrom ini diperparah jika anak remaja bermain dengan gawainya sebelum tidur, entah untuk sekedar berselancar mencari artikel, mengecek media sosial, berkirim pesan atau menonton video, kesemua aktivitas dengan gawai menjelang tidur justru membuat semakin sulit tidur. Saat pagi hari mereka mampu terbangun tetapi masih dalam fase tidur. Inilah yang akhirnya kita sering menjumpai anak remaja “membalas” kurangnya waktu tidur mereka di saat libur atau di akhir pekan. Mereka akan tidur berjam-jam atau menyengajakan diri bangun siang.

Journal Of Youth and Adolescence tahun 2015, mengungkapkan bahwa remaja yang tidur rata-rata 6 jam per hari dilaporkan menderita depresi. Mereka cenderung lebih lalai, impulsif, hiperaktif, dan menantang, beberapa dari mereka juga memiliki kecenderungan tidur selama pelajaran berlangsung. Alhola dan Polo-Kantola (www.ncbi.nlm.gov) dalam penelitian mereka mengungkapkan bahwa performa kognitif anak remaja juga cenderung menurun karena kurang tidur dan terganggunya kualitas hidup.

Dari sisi kesehatan remaja, kurangnya waktu tidur menyebabkan masalah kognitif dan emosional. Carpenter dalam penelitiannya yang dimuat di American Psychological Association tahun 2011 mengungkapkan bahwa anak yang beralih remaja akan berubah menjadi “mayat hidup” karena kurangnya waktu tidur. Mereka tetap beraktivitas tetapi otaknya masih dalam fase tidur. Beberapa penelitian lanjutan memperlihatkan bahwa remaja yang waktu tidurnya lebih lama prestasinya cenderung lebih baik dibandingkan dengan remaja yang kurang waktu tidurnya.

Dewi dan Nursasi pada penelitian tentang gangguan pola tidur dengan prestasi belajar di tahun 2013 menulis bahwa fungsi tidur sebagai proses kognitif memiliki peranan yang sangat penting, terutama saat anak belajar di sekolah. Karena dalam kegiatan belajar membutuhkan proses mencerna informasi, lalu informasi tersebut dapat dijelaskan kembali oleh anak, dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Jika sekolah selama ini hanya mempertimbangkan prestasi akademik siswanya maka sekolah luput melihat hal lain dari sisi anak, yaitu sisi perkembangan psikologi dan kesehatan. Dampak kurang tidur dapat terjadi dalam jangka panjang seperti masalah berat badan, menentang, emosional, dan sulit berpikir logis. Michael Breus, seorang pakar psikologi klinis menyatakan bahwa kurang tidur akan sangat merugikan seseorang sepanjang waktu hidupnya karena pengaruhnya yang signifikan pada tubuh dan otak.

Beberapa hal yang dapat mempengaruhi perkembangan remaja saat mereka kekurangan waktu tidur adalah:
  1. Diabetes Keadaan ini terjadi karena saat seseorang kurang tidur maka terjadi penyerapan glukosa yang tidak sempurna. Keadaan ini memicu risiko diabetes. 
  2. Masalah berat badan Anak-anak yang di saat remaja kekurangan waktu tidur, cenderung mengalami kegemukan di saat dewasa. Hal ini dikarenakan tingkat toleransi glukosa atau ketersediaan glukosa dalam darah berkurang. Disamping itu hormon rasa lapar meningkat, sedangkan hormon rasa kenyang menurun.
  3. Kesulitan berpikir logis Anak-anak mungkin mampu mengerjakan soal ujian dengan baik dan benar, tetapi mereka tidak cukup mampu berpikir logis dan akhirnya menyebabkan anak-anak mudah cepat lupa apa yang mereka sudah pelajari di sekolah.
  4. Masalah emosional dan perhatian Jangan heran jika menghadapi anak remaja yang mudah marah padahal hanya dipicu oleh masalah kecil. Juga jangan heran jika saat anda mengajak remaja berbicara seakan mereka tidak mendengar, acuh, dan bahkan menentang. Hal ini dipicu karena mereka merasa tidak mempunyai kontrol pada aktivitas sehari-hari yang membuat mereka ingin mengontrol orang lain (terutama orang tuanya). 
  5. Kurang konsentrasi Kurang tidur mengakibatkan kelelahan dan konsentrasi berkurang. Berbicara dengan anak remaja harus diulang dan kadang mereka lupa pada hal-hal kecil.
Solusi dari hal ini adalah dengan memundurkan jam masuk sekolah. Dengan memperhitungkan keadaan biologi dan tumbuh kembang anak, maka akan didapatkan perkiraan jam masuk sekolah yang paling tepat, serta lamanya waktu belajar di sekolah. Untuk anak usia SMP-SMA yang berada di usia remaja akan lebih tepat jika jam masuk sekolah dimulai pukul 08.00-08.30. Edukasi dan informasi mengenai keadaan anak usia sekolah terutama anak remaja harus lebih masif, karena banyak orang tua mengeluhkan anak remaja mereka menjadi hobi begadang, malas bangun pagi, di malam hari sibuk dengan gawainya, dan terkadang acuh.

Selain itu, Kemendikbud dalam proses membuat keputusan atau kebijakan tertentu yang berkenaan dengan sistem sekolah harus melibatkan seluruh ahli. Baik itu ahli pendidikan, psikologi, pediatri, kesehatan, dan manajemen sehingga hasil keputusan atau kebijakan yang diambil mampu menyeluruh. Sekolah sebagai salah satu media tumbuh kembang anak juga tidak hanya fokus pada kebutuhan prestasi akademik siswa, tetapi juga mempertimbangkan aspek lain dari siswa. Sekolah bisa jadi merasa malu jika prestasi akademik siswa siswinya menurun, lalu membuat program belajar baru demi meningkatkan nilai akademik. Tetapi apakah sekolah juga merasa malu apabila keadaan psikologi dan kesehatan siswa siswinya terabaikan yang nantinya berdampak pada masa depan mereka?

Artikel ini pernah dimuat di Majalah SAHABAT GURU edisi ke 3 tahun 2018. 

Komentar