STRES ITU APA?

Banyak orang dengan mudah mengatakan jika dirinya sedang stress. Atau mengatakan bahwa orang lain mengalami stress. Sebenarnya stress itu apa? Karena bahkan menurut ahli psikologi, James S. Nairne, stres adalah sebuah konsep yang mudah untuk diidentifikasi tetapi sulit untuk dijelaskan secara tepat. Biasanya, manusia mendeskripsikan stress karena ada atau terlihat stimulus yang mengancam. Atau dapat juga dideskripsikan bahwa stress adalah respon fisik terhadap reaksi perasaan manusia (Lazarus, 1991). Jadi dapat disimpulkan bahwa stress merupakan respon fisik dan psikologis ketika berhadapan dengan sesuatu yang mengancam atau sesuatu yang diharapkan.

Konsep stress dalam psikologi pertama kali ditulis oleh Lazarus pada tahun 1966 dan disempurnakan kembali di tahun 1978, 1984, dan 1991. Lazarus menganggap bahwa stress merupakan sebuah konsep relasional yang terjadi bukan karena rangsangan eksternal ataupun reaksi fisiologis, tetapi stress dipandang sebagai sebuah hubungan antara individu dengan lingkungan mereka. Individu membuat penilaian terhadap lingkungannya, dan penilaiannya tersebut akan berhubungan dengan kesejahteraan dirinya. 

Menurut Lazarus, terdapat dua proses dalam hubungan manusia dengan lingkungannya. Proses pertama disebut dengan proses penilaian kognitif, sedangkan proses kedua disebut koping atau proses mengatasi. Konsep penilaian merupakan faktor kunci dalam memahami munculnya stress. Konsep ini merupakan dasar dari proses emosional dimana setiap individu akan mempunyai penilaian yang berbeda baik dari kualitas stress, intensitas stress, dan durasi stress. Perbedaan penilaian juga tergantung pada motivasi individu, tujuan, nilai, dan harapan terhadap hubungannya dengan lingkungan.

Proses kedua menurut Lazarus adalah proses koping, dimana proses ini sangat berhubungan dengan proses penilaian. Koping mencakup aspek kognitif dan aspek perilaku yang dilakukan sebagai cara untuk menguasai, mentoleransi, atau mengurangi tuntutan eksternal maupun internal karena adanya konflik antara individu dengan lingkungannya. Dari definisi koping tersebut mengandung implikasi berikut (Lazarus & Folkman, 1984): (a) tindakan koping tidak diklasifikasikan menurut efeknya tetapi karakteristik proses koping, (b) proses koping meliputi perilaku serta reaksi kognitif pada individu, (c) dalam kebanyakan kasus, proses koping dilakukan dengan urutan tindakan yang berbeda, dimana individu akan berproses secara bertahap, (d) tindakan koping dapat dibedakan dari fokus mereka menghadapi unsur-unsur stress.

photo from mindful.org (google image)
Model transaksional stress dan koping adalah saat individu mengalami situasi yang membuat stress maka dia akan mencari strategi koping yang sesuai dengan kontrol dirinya dan tingkat stress yang dialami (Lazarus & Folkman, 1984). Secara respon normatif, saat individu mengalami stress maka dia secara langsung akan mencari cara untuk mengatasinya atau lari dari stress. Kegagalan individu dalam merespon stress disebabkan karena dia malas beradaptasi dengan lingkungan dan ketidakmampuan melakukan penilaian terhadap stress (Clarke, 2006).

Stres sering muncul dengan gejala psikosomatis. Gejala psikosomatis banyak tidak disadari oleh individu karena hanya terlihat pada permasalahan kesehatan, misalnya diare, migren, mual, dan sakit kepala. Akhirnya, hanya permasalahan fisik yang diobati tanpa mengobati sumber sakitnya. Nahh…ini yang harus diwaspadai, karena gejala psikosomatis belum banyak dipahami karena kurangnya informasi tentang isu-isu kesehatan.

Manusia tidak dapat terhindar dari stress, yang harus dipelajari adalah bagaimana mengetahui bahwa diri mengalami stress, lalu mencari solusinya.

Referensi
1.  Lazarus, R S, (1991). Emotion and Adaptation. New York: Oxford University Press
2.  Lazarus, R S and Folkman, S, (1984). Stress, Appraisal, and Coping. New York: Springer.



Komentar